Model pembelajaran Bahasa Indonesia terdiri atas 5 macam, yaitu : 1). Model Pembelajaran Mendengarkan, 2). Model Pembelajaran Berbicara, 3). Model Pembelajaran Membaca, 4). Model Pembelajaran Menulis, dan 5). Model Pembelajaran Apresiasi Sastra. Dalam model pembelajaran sastra terdiri atas : Ganti Tokoh , Ganti Latar, Urutan Alur, Skema Tokoh, Tabel Kesan Tokoh, Lanjutkan Ceritera, Parafrase Puisi, Melagukan Puisi/Pantun, dan Baca Puisi.

Dari ke sembilan unsur model pembelajaran sastra di atas, yang merupakan model pembelajaran satra/puisi yaitu : parafrase puisi, melagukan puisi/pantun dan baca puisi.

1). Parafrase Puisi

Memparafrasekan puisi artinya mengubah puisi menjadi bentuk prosa/narasi tanpa mengurangi inti/makna puisi tersebut. Langkah termudah adalah dengan menyisipkan beberapa kata di antara dua kata dalam puisi sehingga menjadi bentuk prosa/narasi yang logis dan lebih mudah dipahami.

Contoh : memparafrasekan puisi “Karangan Bunga” karya Taufik Ismail.

Karangan Bunga

Tiga anak kecil

dengan langkah malu-malu

datang ke Salemba

sore itu

Ini dari kami bertiga

pita hitam

pada karangan bunga

sebab kami ikut berduka

pada kakak

yang ditembak mati

siang tadi

Karangan Bunga (paraphrase)

(ada) tiga anak kecil

(berjalan) dengan langkah malu-malu

(datang) ke Salemba

(pada) sore itu

Ini dari kami bertiga(kata mereka)

(sebuah) pita hitam

(disematkan) pada karangan bunga

sebab kami (merasa) ikut berduka

pada kakak (kami)

yang ditembak (hingga) mati

(pada) siang tadi.

Sekedar contoh cara penulisan parafrase puisi ‘Karangan Bunga’ adalah sebagai berikut :

Ada tiga anak kecil berjalan dengan langkah malu-malu. Mereka datang ke Salemba pada sore itu. “Ini dari kami bertiga” kata mereka. Sebuah pita hitam disematkan pada karangan bunga, sebab kami merasa ikut berduka pada kakak kami yang ditembak  hingga mati pada siang tadi.

Pembelajaran paraphrase puisi perlu latihan dan latihan. Karena semakin banyak berlatih perasaan dan penghayatan terhadap isi/makna sebuah puisi akan semakin terasah. Hal ini amat berperan dalam proses memparafrasekan sebuah puisi.

2). Melagukan Puisi/Pantun

Melagukan puisi sama artinya dengan membaca puisi dengan intonasi menurut nada-nada suatu lagu. Misalnya membaca puisi berjudul “Dengarkan Keluhanku” karya Ebiet G Ade dengan dilagukan dan disertai iringan musik gitar misalnya. Seperti kita ketahui Ebiet G Ade adalah sosok penulis puisi yang dilagukan. Anda dapat mengamati ternyata lagu-lagu Ebiet G Ade sejak album perdana  Camelia I sampai album Camelia V  hampir semuanya adalah puisi yang dilagukan.

Adapun Pantun yang dilagukan pada dasarnya hampir sama dengan puisi yang dilagukan. Hanya ini dalam bentuk pantun. Contoh pantun yang dilagukan yang pernah mencapai top hits misalnya “Ayam Jago”yang dinyanyikan oleh Rany Puspita ( kalau tidak salah). Demikian syairnya :

Ayam jago jangan diadu,

Kalau diadu jenggernya merah…………2x

Baju ijo jangan diganggu

Kalau diganggu yang punya marah……….2x


Jalan-jalan ke kota Paris

Lihat gedung berbaris-baris………..2x

Saya suka sama Bang Kumis

Orangnya ganteng juga romantis ………..2x


3). Baca puisi

Nah, kalau ini saya yakin pasti sudah pada tahu alias faham. Baca puisi sering dilombakan, misalnya lomba baca puisi’perjuangan’, festival baca puisi Islami, dsb. Yang ditekankan pada aspek penilaian dalam pembelajaran baca puisi adalah :

a. Lafal (ucapan) yang jelas dan benar.

b. Intonasi (tinggi rendahnya suara) yang tepat.

c. Dinamik (keras lemahnya suara) yang tepat.

d. Mimik (perubahan raut wajah) atau penghayatan.

Sebagai inovasi pembelajaran, guru dapat menggunakan berbagai macam model pembelajaran baca puisi, misalnya :

a). Dengar ucap ; artinya siswa mendengar kemudian mengucapkan persis seperti yang didengar. Siswa bisa mendengar contoh dari guru atau dengan media rekaman kaset/video puisi Penyair terkenal (WS Rendra, MH Ainun Najib).

b). Demonstrasi/Unjuk kerja ; artinya siswa mendemonstrasikan membaca puisi menurut kreasinya sendiri tidak menirukan siapapun. Siswa membaca menurut versinya sendiri, sehingga siswa menjadi dirinya sendiri. Namun demikian guru tetap perlu memberikan perbaikan/bimbingan  dimana perlu.

Dari kedua model pembelajaran di atas keduanya sama-sama baik karena saling melengkapi. Dengan mendengarkan contoh baca puisi dari ‘Penyair ‘ tertentu siswa diharapkan mampu mengapresiasi dan termotivasi untuk melakukan kegiatan baca puisi secara baik dan benar dengan melihat contoh yang sudah ada. Dan dengan mendemonstrasikan baca puisi menurut kreasi siswa sendiri maka siswa akan belajar untuk menjadi dirinya sendiri dan bukan sebagai pengekor/plagiat karya orang lain. Siswa akan belajar menemukan jati dirinya sendiri. Nilai originalitas baca puisi seperti ini menurut para ahli dipandang sangat tinggi.

Sumber : http://wyw1d.wordpress.com